• home

Pecahkan Rumus Matematika Helmholtz, Ilmuwan Indonesia Disanjung Dunia


Indonesia sudah sepatutnya bangga karena memiliki sumber daya manusia yang mumpuni dibidang sains dan teknologi, yang tak kalah dengan negara lain, khususnya negeri barat.
Salah satu SDM unggul yang dimiliki bangsa ini adalah Dr. Yogi Ahmad Erlangga.
Pria kelahiran Tasikmalaya 8 Oktober 1974 ini berhasil memecahkan rumus matematika Persamaan Helmholtz yang membelenggu para pakar ilmu pengetahuan dan teknologi yang selama 30 tahun tak seorang pun mampu memecahkannya.

Atas keberhasilannya ini, ia sekarang menjadi buruan para konglomerat dunia bisnis perminyakan dan universitas-universitas kelas dunia pun tak ketinggalan mengincarnya supaya bisa hadir di kampus mereka untuk menggelar kuliah umum.
‘’Banyak pakar yang menghindari penelitian untuk memecahkan rumus Helmholtz ini karena memang sangat sulit dan rumit,’’ kata sarjana yang cumlaude S1 dan S2 di ITB ini seperti dilansir Teropong Senayan dan Islamedia.id, Sabtu (14/11/2015)

Ketika ia melanjutkan S3-nya di Belanda, dosen penerbangan dari ITB ini, tertantang oleh perusahaan minyak Shell yang minta bantuan DUT (Delft University of Technology) untuk memecahkan rumus Helmholtz.

Sumber : kaltim.tribunnews.com

Uji Kompetensi Guru

  
Guru memiliki posisi strategis dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Pencanangan guru sebagai profesi oleh Presiden Republik Indonesia pada tanggal 4 Desember 2004, memperkuat peran guru dalam pelaksanaan pendidikan. Undang–Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen secara eksplisit mengamanatkan adanya pembinaan dan pengembangan profesi guru secara berkelanjutan sebagai aktualisasi dari sebuah profesi pendidik. Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan dilaksanakan bagi semua guru, baik yang sudah bersertifikat maupun belum bersertifikat.

Berkaitan dengan program tersebut, pemetaan kompetensi yang secara detail menggambarkan kondisi objektif guru dan merupakan informasi penting bagi pemerintah dalam mengambil kebijakan terkait dengan materi dan strategi pembinaan yang dibutuhkan oleh guru. Peta guru tersebut dapat diperoleh melalui uji kompetensi guru (UKG). Sasaran program strategi pencapaian target RPJMN tahun 2015–2019 antara lain adalah meningkatnya kompetensi guru dan tenaga kependidikan dilihat dari Subject Knowledge dan Pedagogical Knowledge yang diharapkan akan berdampak pada kualitas hasil belajar siswa. Oleh karena itu untuk mengukur capaian RPJMN, maka pada tahun 2015 UKG akan dilaksanakan bagi seluruh guru di Indonesia.

Untuk melihat data peserta dapat melalui link Info GTK

Hasil UKG tahun 2015 ini akan diintegrasikan dengan program Penilaian Kinerja Guru dan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan sebagaimana diamanatkan dalam Permenpan dan RB Nomor 16 Tahun 2009 sebagai persyaratan kenaikan pangkat dan jabatan fungsional guru. Pengembangan keprofesian berkelanjutan dikoordinasikan oleh PPPPTK berdasarkan identifikasi peta kompetensi guru yang diketahui dari hasil UKG . UKG ini akan menjadi agenda rutin bagi guru untuk mengetahui level kompetensi guru sebagai bahan pertimbangan kegiatan peningkatan profesi guru. Dengan demikian, guru nantinya diharapkan tidak resisten terhadap UKG dan akan menjadi terbiasa selalu ingin mengetahui level kompetensi melalui UKG dan senantiasa menginginkan kompetensinya untuk diukur secara berkala.
Hasil UKG ini selain digunakan sebagai dasar dalam pengembangan keprofesian berkelanjutan dan penilaian kinerja guru, digunakan juga sebagai informasi awal untuk menganalisis lembaga pendidikan guru. Untuk itu, sistem dan mekanisme pelaksanaan UKG akan disempurnakan dan dikembangkan secara terus menerus guna memberikan kontribusi dalam pengembangan kualitas sumber daya manusia melalui pembangunan pendidikan.

Sumber : p2tk.dikdas.kemdikbud.go.id

Tantangan Guru pada Era Digital


“Ketika delivering knowledge telah digantikan oleh Google dan Wikipedia maka peran guru harus berubah dari pengajar menjadi fasilitator”
DALAM waktu amat cepat, beberapa dasa warsa terakhir telah terjadi revolusi digital di berbagai negara beserta penggunaannya dalam berbagai bidang kehidupan.
Keberadaan gadget dan internet sudah merupakan satu kebutuhan pokok manusia modern dalam menghadapi berbagai tantangan perkembangan global. Hal ini sudah tentu memberikan dampak terhadap corak dan pola kehidupan umat manusia secara keseluruhan, tidak terkecuali pada sektor pendidikan. Peserta didik saat ini tak lagi mengandalkan guru dalam memperoleh ilmu pengetahuan.
Dengan cepat, mereka bisa mengakses informasi apa pun yang dibutuhkannya melalui internet. Mulai dari tugas, buku-buku yang harus dibaca, hingga gambar dan video yang bisa dengan mudah dan cepat diperoleh. Di mana saja dan kapan saja bisa diakses. Dalam kondisi seperti itu masihkah guru diperlukan? Dalam berbagai kesempatan, Mendikbud Anies Baswedan mengatakan bahwa guru memegang kendali yang besar bagi mutu dan kualitas pedidikan. Dengan kata lain, guru menjadi kunci kemajuan pendidikan.

Lalu, dalam peran seperti apakah guru menempatkan diri dalam proses pembelajaran? Metode ”guru menjelaskan” dan ”peserta didik mendengarkan” tentu menjadi metode pembelajaran yang ketinggalan zaman. Bila guru masih bertahan pada cara itu, dapat dipastikan proses pembelajaran menjadi sangat membosankan. Peserta didik pun pasif karena tidak ada keterlibatan secara emosional dalam proses pembelajaran.
Alhasil, pelajaran bagi siswa hanyalah fakta-fakta hafalan tanpa ada ketertarikan dan minat untuk memaknainya. Ketika delivering knowledge telah digantikan oleh Google dan Wikipedia maka peran guru harus berubah dari pengajar menjadi fasilitator. Artinya, guru berperan memberikan pelayanan untuk memudahkan peserta didik berproses belajar. (Wina Senjaya; 2008). Konsekuensinya, hubungan guru-peserta didik mewujud dalam hubungan kemitraan dan bukan ”atasan-bawahan”.
Dalam hal ini guru bertindak sebagai pendamping siswa dalam suasana belajar yang demokratis dan menyenangkan. Agar dapat berperan optimal sebagai fasilitator, guru perlu menyediakan media dan sumber belajar yang cocok dan beragam dalam tiap kegiatan pembelajaran. Artinya, guru harus lebih inovatif memilih dan menggunakan media pembelajaran.
Memanfaatkan internet dengan menghadirkan native speaker melalui Skype misalnya, adalah satu alternatif berkait pembelajaran bahasa asing. Mengunggah hasil rekaman wawancara peserta didik ke Youtube untuk disaksikan bersama di kelas langsung lewat internet adalah alternatif yang lain. Di samping menarik, cara ini juga memberi rasa bangga bagi peserta didik. Tentu saja, semua itu menuntut guru tidak gagap teknologi.
Nilai-Nilai Kemanusiaan
Era digital menjadikan peserta didik makin individualis. Mereka asyik dan terpesona dengan barang-barang baru beriptek canggih dan cenderung melupakan kesejahteraan diri sebagai makhluk sosial.
Oleh karena itu, pembelajaran di sekolah sebaiknya memberikan keseimbangan pada kehidupan kebersamaan yang menumbuhkembangkan nilainilai kemanusiaan. Guru ditantang untuk menciptakan suasana menyenangkan di sekolah dan di setiap pembelajaran.
Guru yang ramah, peduli, apresiatif terhadap karya siswa akan menjadi role model yang inspiratif bagi peserta didik. Ditambah lagi, bila pembelajaran diselenggarakan secara inovatif, sekolah akan menjadi magnet luar biasa yang selalu dirindukan siswa. Mampukan guru menjawab tantangan itu?

Sumber : berita.suaramerdeka.com

Revolusi Mental, Dimulai dari Pendidikan


GAGASAN revolusi mental yang diluncurkan presiden terpilih Joko Widodo mendapat respons positif dari berbagai kalangan, baik dari teknokrat, agamawan, maupun para pendidik.
Ide revolusi mental bermula dari kegalauan yang dirasakan masyarakat di berbagai ruang kehidupan. Antara lain, di jalan-jalan kota besar dan kecil serta di ruang publik yang lain, termasuk media masa dan media sosial. Revolusi mental harus segera dilakukan. Mengingat, pertama, gagalnya rezim Orde Baru dalam melaksanakan pembangunan, yang belum menyentuh paradigma, mindset, atau budaya politik dalam rangka pembangunan bangsa (nation building).
Kedua, tradisi atau budaya yang tumbuh subur dan berkembang di alam represif Orde Baru masih berlangsung hingga sekarang, mulai korupsi, intoleransi terhadap perbedaan, dan sifat kerakusan hingga sifat ingin menang sendiri, kecenderungan menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan masalah, pelecehan hukum, dan sifat oportunis. Semua itu masih berlangsung dan beberapa di antaranya bahkan makin merajalela di alam Indonesia yang terkenal ramah ini.

Meski sangat sederhana, konsep yang ditawarkan Joko Widodo itu didasari oleh pemikiran yang sangat fundamental, filosofis, dan empiris sehingga mampu menyentuh akar persoalan. Masalahnya, revolusi mental dimulai dari mana?
Dari Pendidikan
Revolusi mental dimulai dari pendidikan, mengingat peran pendidikan sangat strategis dalam membentuk mental anak bangsa. Pengembangan kebudayaan maupun karakter bangsa diwujudkan melalui ranah pendidikan. Pendidikan pengembangan karakter adalah sebuah proses berkelanjutan dan tidak pernah berakhir (never ending process). Selama sebuah bangsa ada dan ingin tetap eksis, pendidikan karakter harus menjadi bagian terpadu dari pendidikan alih generasi.
Implementasi pendidikan karakter tidak harus dikaitkan dengan anggaran. Dibutuhkan komitmen dan integritas para pemangku kepentingan di bidang pendidikan untuk secara sungguh-sungguh menerapkan nilai-nilai kehidupan di setiap pembelajaran. Pendidikan karakter tidak sekadar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah, tetapi juga menanamkan kebiasaan (habituation) tentang hal mana yang baik. Dengan begitu, peserta didik menjadi paham (kognitif) tentang mana yang baik dan salah, mampu merasakan (afektif) nilai yang baik (loving the good/moral feeling), dan perilaku yang baik (moral action), dan biasa melakukan (psikomotor). Jadi, pendidikan karakter erat berkaitan dengan habit(kebiasaan) yang dipraktikkan dan dilakukan.
Anak-anak tidak membutuhkan kurikulum, tetapi kehidupan yang benar-benar mampu menghidupi mereka. Mereka belajar dari kehidupan nyata. Yang terjadi sekarang, banyak nilai atau ajaran yang sudah ada itu dikaburkan, ditutup-tutupi dengan kebohongan yang dikemas dalam sebuah ikon berupa iklan yang justru menyesatkan.
Nilai Utama
Thomas Lickona, dalam bukunya, Education for Character, menawarkan dua nilai utama pendidikan karakter yang berdasar atas hukum moral, yaitu sikap hormat dan bertanggung jawab. Nilai-nilai tersebut mewakili dasar moralitas utama yang berlaku secara universal. Sebab, itu memiliki tujuan dan merupakan nilai yang nyata bahwa terkandung nilai-nilai baik bagi semua orang, baik secara individu maupun sebagai bagian dari masyarakat.
Ada tiga hal pokok untuk memahami konsep rasa hormat. Pertama,penghormatan terhadap diri sendiri. Maksudnya, mengharuskan kita untuk memperlakukan apa yang ada pada hidup kita sebagai manusia yang memiliki nilai secara alami. Kedua, penghormatan terhadap orang lain, mengharuskan kita untuk memperlakukan semua orang, bahkan orang-orang yang kita benci, sebagai manusia yang memiliki nilai tinggi dan memiliki hak yang sama dengan kita sebagai individu. Ketiga, hormat terhadap lingkungan, sebuah kewajiban untuk melindungi alam dan lingkungan ketika kita hidup dari rapuhnya ekosistem dan segala kehidupan yang bergantung di dalamnya.
Sedangkan tanggung jawab merupakan suatu bentuk lanjutan dari rasa hormat. Jika menghormati orang lain, itu berarti kita menghargai mereka. Jika menghargai mereka, kita merasakan sebuah ukuran dari rasa tanggung jawab kita untuk menghormati kesejahteraan hidup mereka. Tanggung jawab secara literal ’’kemampuan untuk merespons atau menjawab’’. Artinya, tanggung jawab berorientasi terhadap orang lain, memberikan bentuk perhatian, dan secara aktif memberikan respons terhadap apa yang mereka inginkan. Tanggung jawab menekankan kepada kewajiban positif untuk saling melindungi.
Sikap hormat dan tanggung jawab adalah dua nilai moral dasar dalam membentuk mental anak yang harus diajarkan di sekolah. Tentunya masih banyak nilai lain, misalnya kejujuran, keadilan, toleransi, kebijaksanaan, disiplin diri, tolong-menolong, peduli terhadap sesama, keberanian, dan sikap demokratis. Namun, nilai-nilai khusus tersebut merupakan bentuk dari rasa hormat dan tanggung jawab atau sebagai media pendukung untuk bersikap hormat dan bertanggung jawab. Bagaimana strategi pengajaran tentang rasa hormat dan tanggung jawab? Bergantung kepada kebijaksanaan masing-masing sekolah. 
Sumber : www.jawapos.com

Membumikan Matematika Terapan


Prof Dr Stephen Roberts dari Australian National University saat menjadi keynote speaker dalam acara ICAME 2015 di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

YOGYAKARTA - Bagi orang kebanyakan, matematika selalu identik dengan hal-hal yang berbau “rumit” dan membosankan. Jarang ada yang tahu jika dengan matematika kita bisa memprediksikan dampak dan risiko tsunami. 
Prof dr Stephen Roberts dari Australian National University Australia memaparkan tentang matematika terapan di hadapan ratusan peserta The 2015 International Conference on Ma thematics, its Applications, and Mathematics Education (ICMAME), kemarin. Menurut Prof Stephen, persoalan dam pak banjir, prediksi cuaca atau tsunami menjadi beberapa contoh fenomena lingkungan yang bisa disimulasikan dan dimo delkan dengan memanfaatkan ilmu matematika terapan. 



De ngan prediksi seperti ini, risiko dan dampak yang bisa diketahui sebelum bencana terjadi tentu dapat meminimalisasi korban maupun kerugian material. “Kami ingin matematika bisa membumi. Banyak yang bisa kita lakukan dengan ilmu matematika,” ujar Kepala Prodi Matematika Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta Hartono PhD, kemarin.
Menurut Hartono, acara semacam ini baru pertama kali digelar di USD. Selain dari Australia, dalam acara ini juga didatangkan profesor dari Jerman. Selama dua hari, mereka akan memaparkan tentang matematika terapan di hadapan 200-an peserta seminar. Tak hanya dari Indonesia, para peserta juga berasal dari luar negeri seperti, Filipina, Malaysia, Vietnam, Kamboja, Brasil, dan lain sebagainya. 
“Kami bertukar pikiran, bangun jaringan diskusi tentang penelitian dan lain sebagainya,” katanya. Hartono mengakui, banyak sekali manfaat dari ilmu matematika terapan. Selain untuk memprediksi dampak bencana alam, ilmu matematika terapan juga bisa digunakan dalam hal aplikasi medis, seperti radioterapi kanker. “Kami ingin matematika punya wajah baru. Tak lagi dianggap sesuatu yang angker. 
Kami ingin matematika membumi, bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ucapnya. Salah seorang peserta, Dwi Wahyuono mengatakan, baginya matematika terapan memang bukan hal yang baru. Guru SMP Pangudi Luhur, Srumbung, Magelang mengaku, selama ini dalam mengajar dirinya selalu berusaha memberikan pemahaman kepada siswa. 
“Saya dalam mengajar selalu berusaha memberikan contoh aplikasi matematika dalam kehidupan sehari-hari. Harapan saya, siswa tidak lagi menganggap matematika sesuatu yang angker,” ujarnya Peserta yang lain, Happy Christianti mengaku, banyak hal baru yang dia dapat dalam acara tersebut. 
“Saya sering ikut seminar-seminar. Matematika terapan bukan sesuatu yang asing bagi saya. Namun soal matematika bisa untuk memprediksikan tsunami dan sebagainya, saya baru dapat dalam seminar ini,” ujarnya. Happy berharap, ke depan acara-acara semacam ini lebih sering diselenggarakan lagi. “Banyak ilmu yang kami dapat dalam acara seperti ini,” ucap Andreas, peserta lainnya.

Sumber : www.koran-sindo.com
alat peraga Artikel ARTIKEL ISLAMI ARTIKEL MATEMATIKA ARTIKEL PENDIDIKAN Bahan untuk belajar Bahasa Indonesia 7 bank soal barisan aritmatika Beasiswa berita matematika berita pendidikan Bilangan Biologi 7 bse matematika BTA Matematika UN 2014 Buku SMP Kurikulum 2013 cara menghitung cepat Cerita Cita data ppdb tgl 24 Excel Formula Matematika game matematika Hokkaido Mathematical Journal INFO PPDB 2013 INFORMASI PENDIDIKAN IPS 8 It Slices It Dices jadwal ujian nasional Kelas 7 Kelas 8 Kisi-kisi UAS 2012 Kisi-kisi UAS Ganjil 2012 Kisi-kisi UKK 2013 KUIS MATH 9 Kumpulan soal-soal Matematika kelas IX Kunci Jawaban KUNCI JAWABAN DAN SEBARAN TUKPD I 2013 kurikulum 2013 Latihan Latihan soal UN LATIHAN TO UN 2013 Latihan UAS Kelas 8 latihan UAS kelas IX Latihan UAS Matematika 9 LATIHAN UAS MATH IX logaritma matematika Matematika 7 matematika sd matematika smp materi Bangun ruang sisi lengkung materi matematika Materi Matematika kelas IX-SMP materi matematika smp Menghtiung Modul Matematika MODUL PM UN 2013 PAI 7 Pengumuman UN 2013 Peringkat UN SMAN DKI Jakarta 2013 php PPDB Jakarta 2013 PROGRAM UN 2013 M2C PSB SMA Negeri Unggulan DKI Jakarta rangkuman RPP matematika Rumus rumus matematika sd kelas 3 sd kelas 4 sd kelas 5 sd kelas 6 segitiga pascal Seri Latihan Soal UN 2010 silabus matematika SKL UJIAN NASIONAL Skripsi SMA SMA kelas 10 SMA kelas 12 SMP smp kelas 7 smp kelas 8 smp kelas 9 SMPN 252 SOAL soal dan pembahasan SOAL DAN PEMBAHASAN UN soal matematika soal try out SOAL TRY OUT MATEMATIKA SMP 2011 soal ujian akhir semester soal UN SOAL UN 2012 UNTUK SMP SOAL UN MATEMATIKA 2011 SOFTWARE statistika matematika teka teki matematika teknik Teori The Asian Journal of Mathematics The Sea of Mathematics tips belajar matematika TOKOH trigonometri Try Out UN 2011 tutorial Ujian Ujicoba UN 2010 UN 2010 UN 2011 Utak - atik Video
Powered by Blogger.